Friday, 6 February 2015

Masase Pemanasan untuk Futsal (Warming Up Sport Massage Futsal)



Warming Up Sport Massage
Olahraga          : Futsal
Tabel Masase
Segmen Tubuh
Otot
Grip dan Teknik
Ulangan
Lama
Tungkai
Atas belakang
-     M. Vastus Intermedius
-     M. Adductor Longus
-     M. Semitendinosus
-     M. Semimembranosus
-     M. Biceps Femoris
-     Effleurage (2)
-     Petrisage (2)
-     Walken
-     Shaking (2)
-     Effleurage (2)
5x
5x
5x
5x
2 x 3 menit

Bawah belakang
-     M. Extensor Digitorum Longus
-     M. Extensor Hallucis Longus
-     M. Gastrocnemius
-     M. Soleus
-     M. Plantaris
-     M. Flexor Digitorum Longus
-     M. Flexor Hallucis Longus
-     M. Tibialis Posterior
-     M. Peronaeus Longus
-     M. Peronaeus Brevis
-     Effleurage (2)
-     Petrisage (2)
-     Shaking (2)
-     Effleurage (2)
5x
5x
5x
5x
2 x 2 menit

Atas depan
-     M. Rectus Femoris
-     M. Sartorius
-     M. Gracillis
-     M. Adductor Magnus dan Minimus
-     M. Vastus Lateralis
-     M. Vastus Medialis
-     Effleurage (2)
-     Petrisage (2)
-     Walken
-     Shaking (2)
-     Effleurage (2)
5x
5x
5x
5x
5x
2 x 3 menit

Bawah depan
-     M. Tibialis Anterior
-     M. Extensor Digitorum Longus
-     M. Extensor Hallucis Longus
-     M. Fibularis
-     Effleurage (2)
-     Petrisage (2)
-     Shaking (2)
-     Effleurage (2)
5x
5x
5x
5x
2 x 2 menit

Bonus

-     Traction

1 menit
Tengkuk dan Bahu

-      M. Trapezius
-      M. Levator Scapulae
-     Effleurage
-     Tapotement
-     Effleurage
5x
5x
5x
2 menit
Lengan

-     M. Biceps Brachii
-     M. Deltoideus
-     M. Brachialis
-     M. coracobrachialis
-     M. Triceps Brachii
-     M. Pronator teres
-     M. Supinator
-     M. Pronator Quadratus
-     M. Flexor Carpi Radialis
-     M. Palmaris Longus
-     M. Flexor Carpi ulnaris
-     M. Flexor Digitorum Profundus
-     M. Brachioradialis
-     M. Extensor Carpi Radialis Longus
-     M. Extensor Carpi Radialis Brevis
-     M. Extensor Carpi Ulnaris
-     M. Extensor Digitorum Communis
-     Effleurage
-     Shaking
-     Effleurage
-     Traction
5x
5x
2 x 2 menit
Total waktu
27 menit

Memar dalam Olahraga



            Olahraga merupakan kegiatan yang beresiko utama terjadi memar. Karena banyak olahraga yang bersinggungan secara langsung dengan lawan jenis atau alat olahraga. Hal ini tak dapat dipungkiri, tingal kita pandai-pandai untuk melakukan tekniknya secara baik dan benar. Luka memar (bruise/contussion) adalah jenis kekerasan benda tumpul (blunt force injury) yang merusak atau merobek pembuluh darah kapiler dalam jaringan subkutan sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya.
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala memberikan petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (Budiyanto A., 1997).
Letak, ukuran, dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti besarnya kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan ( jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit (hipertensi, penyakit kardiovaskular, diathesis hemoragik) (Budiyanto A., 1997).
Umur luka memar dapat secara kasar diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7 sampai 10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari (Budiyanto A., 1997).
Terjadinya luka memar biasanya diawali oleh adanya suatu benturan /kekerasan dengan energi yang cukup untuk mengganggu permeabilitas sel-sel pembuluh darah sehingga terjadi pembengkakan di sekitar daerah tubuh yang terkena benturan. Pembengkakan ini ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan selsel sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstsial. Mula-mula pembengkakan timbul warna merah kebiruan lalu warnanya berubah menjadi biru kehitaman pada hari ke-1 sampai hari ke-3. Setelah itu warnanya berubah menjadi biru kehijauan kemudian coklat. Warna menghilang pada minggu pertama sampai minggu ke-4.
Proses perubahan struktur jaringan diatas yang sering disebut sebagai proses peradangan (inflamasi) memiliki beberapa variasi tergantung lokasi dan struktur jaringan disekitar luka memar. Apabila terjadi pada daerah jaringan ikat longgar (mata, leher, atau pada lansia) maka luka memar yang tampak seringkali tidak sebanding dengan kekerasan, dalam arti lebih luas. Ada 4 faktor yang mempermudah terjadinya luka memar (contusion), yaitu:
  1. Jaringan lemak yang berada dibawah jaringan sublutan.
  2. Kulit (epidermis) yang tipis.
  3. Wanita lebih mudah mengalami luka memar (contusion)daripada lakilaki.
  4. Penyakit, seperti defisiensi vitamin K, penyakit kronis, hemophilia, sirosis, dan lain-lain.
Hal yang harus diingat bahwa luka memar yang disebabkan oleh serangan benda tumpul tidak dapat dilihat dengan segera. Dapat terlihat jejas sepanjang jaringan tubuh atau dapat meluas jika terdapat pada bagian –bagian tubuh yang bergantung pada grafitasi. Penampakan tempat dan waktu dari perubahan warna harus dinilai secara teliti sebelum membuat diagnosa pasti. Luka memar yang jelas terlihat pada muka , leher, tungkai bawah, dan di sekitar mata kaki dan kaki semua itu merupakan daerah-daerah yang rawan salah diagnosa. Selain itu tidak semua luka memar disebabkan oleh serangan, luka memar karena serangan dan yang bukan karena serangan dapat bercampur jadi diperlukan penekanan untuk membedakan antara lesi yang lama dengan yang baru ketika memeriksa sebuah kasus yang dicurigai karena serangan. Inilah yang membedakan antara luka memar dan lebam mayat.

Mekanisme
            Pada kasus luka memar, jejas sel terjadi dikarenakan trauma fisik benda tumpul. Sel yang terkena jejas akan mengalami beberapa fase unruk beradaptasi agar dapat kembali homeosatis. Mekanisme jejas sel pada luka memar merupakan suatu proses biomolekuler sel yang meliputi:
1. Ischemia.
Pada jejas reversible seperti luka memar, sel akan mengalami penurunan aktifitas oksidasi fosforilasi karena sel mengalami iskemia (kekurangan suplai nutrisi), sehingga terjadilah penurunan jumlah ATP (kalsium bebas dalam sitosol meningkat) dan penurunan kemampuan pompa natrium. Penurunan kemampuan pompa natrium ini berakibat ion natrium berakumulasi di dalam sel, terjadi pembengkakan sel (peningkatan isoosmotik), dan difusi ion kalium dari dalam sel.
Lain halnya dengan ion kalsium intra sel, pada kondisi ini terjadi peningkatan ion kalsium dalam sitoplasma yang berasal dari mitokondria yang fungsinya menurun, reticulum endoplasma, dan dari luar sel. Konsekuensi dari kenaikan kadar ion kalsium intra sel ini adalah terjadinya aktivasi beberapa enzim, antara lain:
a. Enzim ATP-ase (menurunkan kadar ATP).
b. Enzim Fosfoipase (menurunkan kadar fosfolipid).
c. Enzim Endonuklease (merusak inti kromatin).
d. Enzim Protease (merusal protein membrane dan
sitoskeletal).
Efek dari iskemia tidak berhenti sampai disini, Jejas sel pada luka memar juga memacu peningkatan glikolisis anaerob yang mengkibatkan :
a. Penipisan cadangan glikogen.
b. Akumulasi asam laktat.
c. Akumulasi fosfat anorganik.
d. Penurunan pH intrasel.
            Pada ribosom juga terjadi penurunan sintesis protein, fungsi mitokondria menjadi jelek, kenaikan permeabiltas membran, hingga kerusakan sitoskeleton. Pada akhirnya mitokondria, reticulum endoplasma, dan sekitar sel ikut membengkak.
2. Radikal Bebas (Activated Oxygen Species).
Jejas sel pada luka memar juga melibatkan radikal bebas, ini dapat dilihat pada proses kerusakan oleh karena proses peradangan. Radikal bebas sendiri ialah sejenis bahan kimia yang memiliki satu elektron tanpa pasangan pada orbit luarnya. Sifat radikal bebas tidak mantap, sangat reaktif, dalam sel mengadakan reaksi dengan bahan kimia anorganik dan organik, protein, lemak, dan karbohidrat. Sumber radikal bebas berasal dari hidrolisis air menjadi OH- dan H+ dengan ionisasi radiasi, raksi reduksi-oksidasi pada fisiologi normal (respirasi, oksidasi intrasel, dan resksi logam transisi), dan metabolism bahan kimia eksogen. Mekanisme jejas oleh karena radikal bebas meliputi:
a. Peroksidasi lemak dalam selaput organel sampai merusak retikulum endoplasma, mitokondria, dan komponen mikrosom lain.
b. Peroksidasi lipid pada membran.
c. Kerusakan pada DNA karena radikal bebas bereaksi dengan Thymine.
Karena termasuk dalam proses peradangan (inflamasi), maka luka memar memiliki 5 tanda mayor dari peradangan, yaitu: Rubor (kemerahan), Kalor (panas), Dolor (rasa sakit), Tumor (pembengkakan), dan Fungsio Laesa (perubahan fungsi). Ketika luka timbul, beberapa efek kemungkinan akan muncul, antara lain:
  1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
Kehilangan seluruh atau sebagain fungsi ini atau fungsiolaesa, merupakan efek gabungan dari bengkak, nyeri yang disertai sirkulasi abnormal, dan lingkungan kimiawi local yang abnormal.
  1. Respon stres simpatis.
Akibat sensasi Dolor (rasa sakit) dari peradangan disebabkan oleh perubahan pH local atau konsentrasi local ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung syaraf. Hal yang sama, pengeluaran zat kimia tertentu seperti histamine.
  1. Perdarahan dan pembekuan darah.
  2. Kontaminasi bakteri.
  3. Kematian sel.

Antalgin


            Antalgin merupakan salah satu turunan pirozolon yang bersifat analgetika yang mempunyai kerja farmakologi utama analgetik, selain itu juga menunjukkan kerja antipiretik (Foye, 1995). Analgetik adalah obat yang bersifat simtomatik, berarti analgetik hanyamengurangi atau menghilangkan gejala yang berupa rasa sakit, tetapi tidak menghilangkan penyebab yang menimbulkan rasa sakit itu. Obat ini bekerja mengurangi rasa sakit dengan cara menaikkan nilai ambang (treshold) rasa sakit (Munaf, 1994).
            Antalgin adalah salah satu obat penghilang rasa sakit (Analgetik) turunan NSAID, (Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs). Umumnya, obat-obatan analgetik adalah golongan obat antiinflamasi (anti pembengkakan), dan beberapa jenis obat golongan ini memiliki pula sifat antipiretik (penurun panas), sehingga dikategorikan sebagai analgetik-antipiretik. Antalgin merupakan derivat metansulfonat dari Amidopirina yang bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh.
            Umumnya, cara kerja analgetik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter terentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan sinyal nyeri, sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
            Setiap obat harus diatur dosisnya, apapun itu, terutama jika menyangkut usia. Hal ini karena selain luas permukaan tubuh yang berbeda-beda, juga fungsi organ tubuh bisa jadi berbeda. Misalnya, fungsi organ tubuh anak-anak yang dalam usia perkembangan belum sesempurna orang dewasa, dan fungsi organ tubuh manula bisa dikatakan sudah mengalami penurunan fungsi. Oleh karena itu terutama pada kedua golongan usia tersebut, anak-anak dan manula, dosisnya harus lebih diatur. Selain usia, pembagian dosis juga bisa berdasarkan berat badan, karena pada intinya, untuk bisa bekerja, obat harus berada di "site aktif"-nya, yang mungkin saja berada di hampir seluruh bagian tubuh, yang terjadi pada obat-obat berdosis besar (di atas 100mg per satu kali minum).
            Antalgin tidak boleh dikonsumsi oleh orang yang memiliki riwayat alergi terhadap obat-obat golongan NSAID seperti aspirin, parasetamol, dll. Karena pada umumnya obat golongan NSAID memiliki salah satu efek sebagai pengencer darah, maka pasien yang sedang menjalani pengobatan dengan heparin atau obat-obatan pengencer darah lainnya, harus lebih berhati-hati, karena jika terjadi perdarahan, akan dapat mengakibatkan perdarahan yang lebih hebat. Untuk penderita sirosis hati, harus menggunakan dosis minimum jika mengonsumsi antalgin. Dan pasien dengan gagal ginjal tidak direkomendasikan mengonsumsi obat ini.

Efek penggunaan antalgin antara lain:
1. Agranulositosis
Agranulositosis adalah sumsum tulang berhenti membentuk neutrofil, mengakibatkan tubuh tidak dilindungi terhadap bakteri dan agen lain yang akan menyerang jaringan (Guyton, 1992 ). Agranulositosis adalah keadaan yang sangat serius yang ditandai dengan jumlah leukosit yang sangat rendah dan tidak adanya neutrofil ( Price Sylvia A, 1995 ). Agranulositosis adalah keadaan yang potensial fatal dimana hampir tidak terdapat leukosit polimorfonuklear atau jumlah granulosit yang lebih rendah dari 2000/mm³ ( Brunner, 2002 ).
2. Trombositopenia
            Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditandai oleh adanya penurunan jumlah trombosit dalam darah perifer. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam produksi trombosit yang memadai dan peningkatan destruksi trombosit perifer atau sekuestrasi trombosit dalam limpa.Pada Pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara normal. 


Farmakokinetik Antalgin:
            Pada fase ini, antalgin mengalami proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi yang berjalan secara simultan langsung atau tidak langsung melintasi sel membran (Anief, 1991).
1. Absorbsi
Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan.
2. Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak.
3. Metabolisme
Metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat.
Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma.
4. Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 proses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal. Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat.

Farmakodinamik Antalgin:
            Sesuai analgetika, obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala, juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan radang atau inflamasi. Analgetika bekerja secara sentral menahan nyeri. Analgesia yaitu suatu keadaan dimana setelah pemberian analgetik, bercirikan perubahan prilaku pada respon terhadap nyeri dan kemampuan yang berkurang untuk menerima impuls nyeri tanpa kehilangan kesadaran (ganiswara,1981).